Koneksi Antar Materi - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Koneksi
Antar Materi
Modul 3.1.a.8 Pengambilan Keputusan
sebagai Pemimpin Pembelajaran
Disusun Oleh:
Lilin Marisa-SD Negeri 3 Kemiriombo-CGP Angkatan 1-Kabupaten Temanggung
Gambar 1. Mind Map Koneksi Antar Materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Berangkat dari pernyataan
Bob Talbert yang menyatakan bahwa “Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik (Teaching kids to count is fine but teaching them what
counts is best)”, menyadarkan kita sebagai pendidik
bahwa mengajarkan anak-anak sesuatu yang berharga adalah hal terpenting dalam
hidup, selain itu pernyataan dari George WFH “Pendidikan adalah sebuah seni
untuk mencipta manusia menjadi beretika
(Education is the art of making man ethical)” juga erat hubunganyya dengan
pernyataan sebelumnya. Jika kedua pernyataan ini digabungkan maka akan didapat
intisari dari sebuah pengajaran yang berkualitas dan berbobot. Mengajarkan
anak-anak sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan membentuk mereka menjadi
manusia yang beretika adalah salah satu esensi mengajar yang luar biasa luhur. Hal
ini jika dikoneksikan pada Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa,
Tut Wuri Handayani” juga sangat sejalan dengan penerapan prinsip guru
sebagai pemelihara dan perangsang tumbuh kembang anak sesuai kodratnya. Sistem
among dan asuh yang disampaikan oleh Bapak Pendidikan kita tidak terlepas dari
pembelajaran bermakna dan berharga serta pembentukan karakter pe;ajar Pancasila
melalui etika serta kebiasaan baik yang ditanamkan.
Untuk mencapai hal-hal tersebut, kadang
kita sebagai pendidik dihadapkan pada 4 paradigma dalam mengambil keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran, keempat paradigma tersebut adalah sebagai
berikit:
1. Individu
lawan masyarakat (individual vs community).
2. Rasa
keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy).
3. Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty).
4. Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).
Selaku pemimpin
pembelajaran yang baik dalam menghadapi 4 paradigma tersebut, tentu kita harus
menerapkan prinsip-prinsip dalam mengambil keputusan, prinsip yang dapat kita
terapkan dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ada 3, yaitu:
1. Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking).
2. Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking).
3. Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
Selain ketiga prinsip
dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, ada juga 9
keterampilan pendukung yang harus kita kuasai agar kita lebih bijaksana dalam
mengambil keputusan, 9 keterampilan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan Diri
2. Manajemen Waktu dan Kehidupan
3. Agen Perubahan
4. Tujuan dan Usaha Bersama
5. Keterampilan Keputusan Beretika
6. Pengaruh Keterampilan Persuasif
7. Komunitas Iklim Berbudaya
8. Transisi Kepemimpinan dan Perencanaan Suksesi
9. Arahan yang Jelas dan Tegas
Jika
semua tahap sudah dilalui, dengan menemui 4 paradigma, penerapan 3 prinsip dan
terlatih dalam 9 keterampilan dalam pengambilan keputusan, maka akan lebih baik
lagi jika kita mengikuti 9 langkah dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran, 9 langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang
saling bertentangan dalam situasi pengambilan keputusan.
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam
situasi pengambilan keputusan.
3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situas pengambilan keputusan.
4. Pengujian benar atau salah.
5. Pengujian paradigma benar lawan benar.
6. Melakukan prinsip resolusi.
7. Investigasi opsi trilema.
8. Buat keputusan.
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Selain langkah-langkah di atas yang dapat ditempuh dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita juga bisa mengkombinasikan dengan teknik coaching model TIRTA dalam menggali potensi para coachee secara lebih maksimal, menjadi pendengar asertif juga akan membuat coachee nyaman dan lebih terbuka terhadap kita, sehingga kita bisa optimal dalam menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan secara tepat dan bijak. Coachee yang dimaksud disini bisa merupakan peserta didik, masyarakat maupun rekan sejawat. Jika pengambilan keputusan sudah tepat dan bijak, maka akan tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan berhamba pada anak sehingga tujuan utama pendidikan merdeka belajar dapat tercapai.
Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran Koneksi
Antar Materi
1.
Bagaimana
pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh
terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran diambil?
Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap bagaimana
sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. “Ing
Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menjadi tombak pengambilan keputusan yang
sangat bijak jika diterapkan pada seorang pemimpin pembelajaran dalam
pengambilan keputusan. Jika didepan memberi contoh, jika ditengah membangun dan
jika dibelakang memberikan dorongan serta motivasi. Pratap Triloka ini
benar-benar ideal jika diterapkan dalam pengambilan keputusan sebagai seorang
pemimpin pembelajaran.
2.
Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, secara
otomatis akan berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Nilai kejujuran, tanggungjawab,
kesetiaan, keagamaan, kedisiplinan, kepemimpinan dan nilai kepedulian akan
sangat berperan besar pada pengambilan 3 prinsip dibawah ini:
a.
Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking).
b.
Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking).
c.
Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
Orang
yang mempunyai latar belakang nilai kedisiplinan dan berpikir secara terbuka,
tanggungjawab dan logis maka cenderung akan menganut prinsip berpikir hasil
akhir dalam setiap pengambilan keputusannya, orang dengan latar belakang nilai
disiplin, tanggungjawab dan keadilan akan cenderung menganut prinsip berpikir
berbasis peraturan dalam mengambil keputusan, sedangkan orang yang mempunyai
latar belakang nilai rasa kasihan, peduli dan kesetiaan maka akan cenderung
menganut prinsip berpikir berbasis rasa peduli dalam setiap pengambilan
keputusan. Ada beberapa orang yang mempunyai latar belakang banyak nilai dalam
hidupnya, maka dia akan bisa mengkombinasikan beberapa prinsip untuk diterapkan
sekaligus dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
3.
Bagaimana
kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan
pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama
dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan
keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri
kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu
oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Kegiatan
Coaching dan bimbingan yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam proses
pendidikan CGP sangat membantu saya selaku CGP dalam mengambil keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran. Meskipun belum sepenuhnya efektif, tetapi
sedikit demi sedikit saya telah dapat merubah cara pandang dan cara mengambil
keputusan yang bijak dalam pembelajaran.
4.
Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Pembahasan
studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika juga sangat erat
hubungannya dengan nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik. Karena latar
belakang nilai tersebut yang menjadi faktor penyumbang terbesar dalam
menentukan pengambilan keputusan.
5.
Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Agar
dalam pengambilan keputusan dapat tepat sehingga tercipta lingkukungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman, maka sebaiknya kita menerapkan 9 langkah
dalam pengambilan keputusan seperti dibawah ini:
a. Mengenali
bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi pengambilan keputusan.
b.
Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi pengambilan keputusan.
c.
Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situas pengambilan keputusan.
d.
Pengujian
benar atau salah. (Uji legal, uji regulasi/standar profesioanl, uji intuisi,
uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.)
e.
Pengujian
paradigma benar lawan benar.
f.
Melakukan
prinsip resolusi.
g.
Investigasi
opsi trilema.
h.
Buat
keputusan.
i.
Lihat
lagi keputusan dan refleksikan.
6.
Selanjutnya,
apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah
ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Kesulitan
saya dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
ini adalah kadang-kadang ada bujukan moral yang membuat saya terjebak pada
sebuah posisi yang membingungkan. Tetapi setelah mempelajari modul ini, saya
mempunyai pandangan baru bagaimana mengambil keputusan secara benar dan bijak
sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya harus bisa membedakan benar lawan
salah sehingga saya akan cenderung memilih yang benar apapun resiko yang akan
menimpa pada diri saya.
7.
Dan
pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Pengambilan
keputusan yang kita ambil tentu saja sangat berpengaruh terhadap pengajaran
yang memerdekakan murid-murid kita, pengambilan keputusan yang kurang tepat akan
menyebabkan terenggutnya hak anak dalam merdeka belajar, sedangkan keputusan
yang tepat akan menciptakan suasana yang aman, nyaman dan memerdekakan anak.
8.
Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Masa
depan murid kita terletak pada pengambilan keputusan yang kita lakukan, seperti
contoh kasus-kasus yang telah ditayangkan dan harus dianalisis, jika kita
sebagai pemimpin pembelajaran kurang bijak dan kurang pas dalam mengambil
keputusan, maka kita bisa menghambat bahkan menghancurkan mimpi-mimpi serta
cita-cita mereka dari latar belakang potensi yang mereka miliki.
9.
Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini
dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari
pembelajaran modul ini adalah bahwa segala tindakan yang akan kita ambil untuk
menentukan sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran haruslah berpedoman
kepada Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu patrap triloka. Selain itu
penerapan inquiri apresiatif, pembelajaran berdiferensiasi, serta berkesadaran
penuh (mindfulness) dalam pengelolaan emosi dengan menerapkan KSE dapat
membantu saat melakukan tekhnik coaching model TIRTA serta mencari tahu
permasalahan yang dihadapi siswa maupun guru untuk menangani sebuah
permasalahan serta dapat mencari sebuah solusi sesuai dengan kompetensi yang
dimiliki. Pengambilan keputusan tentulah harus berpihak kepada anak agar tujuan
utama pendidikan merdeka belajar dapat tercapai secara maksimal.

Komentar
Posting Komentar